Universitas Kristen Indonesia

UKI Menjadi universitas unggulan dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat yang antisipatif dalam era globalisasi berdasarkan nilai-nilai kristiani

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita

Pengumuman

Sarjana Kedokteran




Lihat Pengumuman


JAKARTA - REPORTER UKI Tahun ini Universitas Kristen Indonesia menerima seorang mahasiswi termuda berusia 14 tahun yang tercatat sebagai mahasiswi di Fakultas Kedokteran tahun akademik 2015/2016. Saat teman-teman seusianya masih asyik bermain dan bersenang-senang menikmati masa remaja, Saerang Litania Forchrist Langi, yang akrab dipanggil Christa sudah duduk di bangku kuliah. Dara kelahiran Manado, 13 Desember 2000 ini memang sudah memantapkan langkahnya untuk menjadi seorang calon dokter karena terinspirasi dari sang Ibu yang juga seorang dokter dan kisah perjuangan kawan kecilnya yang meninggal karena kanker paru-paru saat usia 9 tahun, walaupun keinginan awalnya adalah menjadi seorang arsitek karena hobi menggambar yang dimilikinya.

“Mama saya seorang dokter, ia mengharapkan saya juga menjadi dokter, dan saya ingin menyenangkan orang tua. Selain itu, saya pernah punya teman usia 9 tahun yang meninggal karena kanker paru-paru. Saya berpikir kalau saya harus membantu orang lain. Akhirnya saya berubah pikiran untuk menjadi dokter,” ungkap Christa. Saat ini Christa berkeinginan menjadi seorang dokter spesialis kanker, “Saya ingin menyemangati anak-anak yang terkena penyakit kanker,” tambahnya.

Christa dan orang tuanya mempercayakan pendidikannya di UKI karena merasa UKI adalah kampus yang tepat untuk mewujudkan cita-citanya sebagai seorang dokter. “Saya secara pribadi memilih kuliah di UKI karena saya dan orang tua lebih mempercayakan UKI daripada universitas lain karena UKI adalah universitas yang berdasarkan iman Kristen,  fasilitasnya lengkap, dan dengan berkuliah disini peluang saya untuk mendapatkan beasiswa S2 di luar negeri lebih besar daripada di Manado,” ungkapnya.

Menjadi mahasiswa kedokteran bukan hal yang mudah tentunya. Banyak proses yang harus dijalani gadis berambut panjang ini. Saat masuk Sekolah Dasar, Christa masih berusia 4 tahun. Orang tuanya ingin menyekolahkannya di SDN 4 Tondano, Manado. Sekolah tersebut memberikan kesempatan untuknya dengan syarat harus mendapatkan peringkat di kelas. Jika tidak, Christa harus berhenti melanjutkan sekolahnya. “Syaratnya, kalau dapat juara baru dapat diteruskan. Ternyata, saya mendapatkan peringkat lima, sehingga dapat masuk SD di usia 4 tahun” ucapnya.

Christa, mahasiswi FK UKI yang masih berusia 14 th

Christa, mahasiswi FK UKI yang masih berusia 14 th

Diakui Christa jalur akselerasi membantunya mempercepat pendidikan hingga menjadi mahasiswi termuda di UKI. Atas saran teman dan orang tuanya untuk mempercepat masa sekolah, Christa mengikuti kelas akselerasi di SMPN 8 Manado selama dua tahun dan dua tahun lagi di SMAN 9 Binaan Khusus (Binsus) Manado, satu-satunya sekolah negeri di Manado yang membuka kelas akselerasi. “Saran Mama, kamu kan mau masuk kedokteran, kalau dipercepat kamu bisa lebih banyak menghemat waktu untuk menjadi seorang dokter. Akhirnya, saya mengikuti berbagai tes untuk masuk kelas akselerasi” ungkapnya.

Masuk kelas akselerasi dan menjadi siswi termuda dengan IQ tinggi tidak mempermudah langkahnya. Tantangan juga dirasakan Christa saat di sekolah, terkadang ia harus merasakan diskriminasi. “Karena saya paling muda, nilai saya paling tinggi, dan anak kesayangan salah seorang guru, yang lain iri dan mereka sisihkan saya. Memang menjadi tantangan, tapi pada akhirnya saya sadar saya sudah terbiasa, jadi tidak apa-apa.” Ucapnya.

Tidak ada yang istimewa dari cara belajar mahasiswi yang menyukai mata pelajaran matematika dan bahasa Jepang ini. Setiap kali orang tuanya menyuruh belajar, ia hanya cukup membaca buku selama lima menit dan tidak setiap hari, “Sewaktu sekolah kalau orang tua menyuruh belajar, saya belajar cuma lima menit membaca saja, itu pun tidak setiap hari. Jadi belajarnya fokus di sekolah saja,” paparnya.

Keberhasilannya menjadi mahasiswi termuda tak hanya membuatnya bangga dan bersyukur tapi juga bersedih karena harus sedikit kehilangan masa bermain dengan teman-teman sebayanya. “Saya bangga tapi juga bersedih karena teman-teman lain di usia sekarang ini masih bermain, sedangkan saya harus fokus belajar (kuliah). Akan tetapi, saya bersyukur karena di usia ini saya masih mampu karena kalau mau dibandingkan dengan anak-anak lain. Saya berpikir, saya sudah diberikan karunia,” ucapnya.

Meskipun jarang bermain dengan teman-teman seusianya di sekolah karena usianya yang lebih muda, Christa tetap ingin menikmati masa mudanya dan tidak hanya menghabiskan waktu untuk belajar.

“Saya nggak terlalu banyak belajar, saya lebih fokus pada pemikiran bahwa ketika saya belajar, saya harus serius agar waktu luang saya bisa saya pakai untuk menikmati masa muda saya. Saya berpikir kalau saya bisa serius ketika belajar, saya bisa menggunakan waktu yang tersisa untuk melakukan hobi saya. Jadi, setiap dalam proses pembelajaran saya berusaha untuk langsung mengerti dan mempraktekannya,” tuturnya.

Christa berharap agar dapat lulus tepat waktu dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, lalu dapat melanjutkan kuliah S2nya di luar negeri dan kembali ke Manado dapat menjadi Gubernur atau Presiden untuk mewujudkan cita-cita mulianya, “Kalau kembali ke Manado setidaknya bisa menjadi seorang Gubernur atau Presiden untuk memajukan kesehatan, karena banyak sekali orang yang kehilangan nyawa karena tidak mampu membiayai kesehatannya”.

Tak lupa Christa memberikan tips untuk teman-teman yang ingin berprestasi seperti dirinya, yaitu Enjoy your Life, berpikiran maju, dan pantang menyerah.

Enjoy Your Life. Nilai atau angka bukan ukuran kalau kita itu pintar. Nilai kimia saya rendah, nilai UN saya juga pernah turun, tetapi saya berpikir walaupun nilai saya turun bukan berarti saya tidak dapat masuk fakultas kedokteran. Saya harus maju dengan apa yang saya dapatkan sekarang,” tutupnya.

Login




Pengunjung


Total Pengunjung:127676
Hari ini:49
Total Hit:308921

Link