Universitas Kristen Indonesia

UKI Menjadi universitas unggulan dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat yang antisipatif dalam era globalisasi berdasarkan nilai-nilai kristiani

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita

Pengumuman

Sarjana Kedokteran




Lihat Pengumuman


JAKARTA-REPORTER. Pada hari Rabu, 11 November 2015, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia mengadakan kuliah umum bertajuk Clinical Examination and Diagnosis. Kuliah yang dimulai pukul 09.00 WIB ini diadakan di Ruang Kuliah Amphitheater. Dalam kuliah umum tersebut, FK UKI mengundang Prof. Colin Robertson, MB, ChB, MRCP(UK), FRCP(Ed), FRCS(Ed), FFAEM, FSAScot sebagai pembicara. Penulis berbagai literatur medis tentang penanganan kondisi gawat darurat ini membawakan dua sesi kuliah. Sesi pertama ditujukan untuk mahasiswa angkatan awal, tentang penilaian dan pertolongan pertama untuk trauma (injury/cedera). Sesi kedua ditujukan untuk para mahasiswa FK senior dan yang sudah dalam masa praktik.

Kuliah umum ini dihadiri oleh Wakil Rektor I, Dr. dr. Gilbert W.S. Simanjuntak, Sp. M(K), Wakil Dekan I FK UKI, dr. Sisirawaty, MS., Sp.Par, M.Si, Wakil Dekan II FK UKI dr. Louisa Ariantje Langi. Kegiatan ini dimoderatori oleh Dr. dr. Sahala Panggabean, Sp.PD-KGH.

Dr. Gilbert, Wakil Rektor 1 memberikan kata sambutannya

Dr. Gilbert, Wakil Rektor 1 memberikan kata sambutannya

“Trauma pada umumnya disebabkan oleh kromosom Y. Itulah yang membuat pria cenderung melakukan hal-hal bodoh,” papar Prof. Robertson yang disambut gelak tawa para mahasiswa. Kromosom Y adalah pembawa informasi genetik yang hanya ditemui pada pria. “Jika populasi dunia hanya terdiri dari wanita, maka jumlah kasus trauma akan menurun drastis.”

Berikutnya, beliau mengungkapkan bahwa penyebab utama trauma di USA adalah penembakan. Sebagian kasus terkait dengan alkohol, salah satu substansi yang membuat orang-orang melakukan hal-hal bodoh. Beliau juga menjelaskan hal-hal yang harus ditangani pertama kali dalam menghadapi trauma, yaitu pernapasan (jalan udara) dan luka yang menyebabkan kehilangan darah. Dalam sesi pertama itu, Prof. Robertson juga memeragakan jenis suara napas dalam mengenali penghambat jalur udara.

Beberapa pertanyaan dari peserta kuliah disambut antusias oleh beliau. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah ketika menangani korban penusukan, apakah benda penusuk/pisau harus dicabut dalam pertolongan pertama. Prof. Robertson menuturkan bahwa sebaiknya benda penusuk tidak dicabut untuk mengantisipasi kehilangan darah, juga agar dokter memiliki gambaran tentang sudut dan kedalaman tusukan untuk memberikan tindakan yang tepat.

Prof. Robertson memberikan materi sesi 1

Prof. Robertson memberikan materi sesi 1

Dalam sesi kedua, para mahasiswa senior dan praktik mempelajari tentang kasus-kasus klinis. Beliau membuka kuliahnya dengan menceritakan tentang Sherlock Holmes, tokoh detektif ciptaan Sir Arthur Conan Doyle. Conan Doyle yang menamatkan pendidikan medisnya di Universitas Edinburgh mendasarkan karakter Sherlock pada seorang tokoh nyata, yaitu dosennya sendiri. Ciri khasnya adalah memecahkan kasus dari informasi-informasi kecil yang terlewat dari perhatian orang lain.

Dengan kerangka pikir tersebut, para peserta diajak untuk menganalisa bersama secara deduktif, salah satu kasus klinis nyata melalui sebuah foto. Terus-menerus Prof. Robertson memancing para mahasiswa untuk mengambil informasi sebanyak-banyaknya dari satu foto tersebut. Pada akhirnya, dari informasi deduktif dan ditambah keterangan rekam medis dan catatan pengasuh, terungkap apa sebenarnya yang terjadi dan diderita oleh orang lanjut usia dalam foto tersebut.

Login




Pengunjung


Total Pengunjung:131224
Hari ini:21
Total Hit:318447

Link